Love Text

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatam madhiyyah
Fadkhulii fii ibadii
Wadkhulii jannatii

Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu, dengan perasaan senang, dan menyenangkan [bagi-Nya].
Maka masuklah di antara hamba-hamba-Ku,
Dan masuklah ke surga-Ku.

(Al-Fajr: 27-30)

 

Dan bahkan Dia sudah mempersilahkan manusia masuk dalam pelukannya. Kemudian apa respon kita?

Akankah kita berlari dan menyambut kedua lenganNya?

Advertisements

When you get over-bored… with your cloths!

“It’s about up-cycling. It’s about adding value to an item of clothing through creativity and using our clothing to be inspired to make it into something else. Thinking of clothes in phases, not just ‘This is a pair of jeans and then I have to chuck it because it’s broken,’ but it’s a pair of jeans, and then a jacket, and then a skirt,” -Julia Faye Roebuck

 

Pernah punya baju tapi udah hampir gak pernah dipake lagi? Mungkin karna terlalu jadul, atau mainstream, atau gak muat? Tapi gak dibuang atau disumbangin karna masih sayang :’3

Atau sebel ngeliat tumpukan baju masih bagus-bagus tapi bosen, pengen beli lagi tapi ga ada duit?

Solusi: diREMAKE aja! diEDIT!

Nih beberapa yang gampang, anti-mainstream, dan wohoo hasilnya 😀

Color Block Pants

Elbow Patch

Ombre Shirt

Fringe Top

Some call it ‘Trashion’, but i’d prefer ‘Sustainable Fashion’ \m/

Bantat Generation

BANTAT

Ind: belum masak benar dan keras (tt roti dsb).

Eng: not well done, partially cooked (of bread, etc.).

artikata.com

Keadaan kue atau roti yang tidak mengembang sempurna, biasanya karena teknik mengocok telur yang kurang baik. –Siti Bararah N. (2013)

 

Sore ini gw bantuin adek sepupu gw, Ingki kelas 2 SD, buat ngerjain latian soal ujian. Mata pelajaran: IPS.
Soalnya keliatan resmi gitu dari dinas pendidikan. Soalnya abstrak minta ampun! Bikin gw pengen maraaaaaah bgt! >:O
Mau tau soalnya kayak apa?

 

Soal Isian:

23. Foto yang dipajang di dinding harus diberi…

 Soal macem apa ini?? Adek sepupu gw bingung gatau jawabannya apa, dan gw tanya “Kamu kalo punya foto trus mau ditaro di dinding maunya dikasi apa?”. Trus dia nunjuk pigura tapi gatau namanya apa. Dan gw pikir “hey dek, persetan guru lo ngomong apa di sekolah, kalo lo mau foto lo di dinding dikasi selai coklat juga gapapa tau. Kamu maunya foto kamu di dinding dikasi apa sebenernya? Buat aja sesukamu! :)”. Bener-bener soal yang bantat.

24. Foto pernikahan keluarga disimpan dalam…
Hah! Ini lagi pertanyaan random ckck. Sepupu gw tulis jawabannya ‘album’.
Terus gw tanya “loh emang harus ditaro di album ya? Kalo aku maunya disimpen di saku boleh gak?”.
“Gak boleh.”
“Kenapa emangnya?”.
“Soalnya nanti kotor.” Yaaah oke lah kalo ini alasannya.
Trus gw nanya lagi ” Kalo aku maunya taro di dompet boleh?”
“Gak boleh.”
“Loh kenapa emang? Kan di dompet gak bakal kotor?”
“Pokoknya gak boleh. Itu jawabannya yang udah bener.”

Apa yang diajarin di sekolah sekarang sih??? Lagi-lagi bantat!

27. Buku tulis atau buku pelajaran harus diberi…
Ini gak dijawab adek sepupu gw karna bingung. Tapi coba deh pikir, ini pertanyaan macam apa ya? Tujuan pertayaan ini apa sih sebenernya? Kan suka-suka aja buku gituan dikasi apa, kalo gw maunya dilaminating boleh kan? Kalo di kasi stiker nama boleh juga kan? Kalo mau gw kasi cat pelapis biar cakep juga gak salah dong? Taruhan, di sekolah diajarinnya ‘buku tulis atau buku pelajaran harus diberi sampul’ atau hal semacamnya yang gak seru.

Soal Essay:
33. Tuliskan 3 peristiwa yang menyenangkan waktu masa kecil!
Trus jawabannya: bermain sepeda, bermain Animal Kaiser, main ke TimeZone. Dua jawaban terakhir adalah hasil intervensi gw dengan memancing sepupu gw buat inget kalo dia suka main Animal Kaiser dan ke TimeZone.
Kalo engga ada intervensi apa ya kira-kira jawabannya?

35. Tulislah 3 peristiwa yang tidak menyenangkan!
Jawabannya: kebakaran, jatuh dari sepeda, banjir. Oh yaampun bahkan adek sepupu gw itu belom pernah ngalamin sendiri yang namanya banjir, plis deh kenapa jawabnya jauh-jauh amat ya? Jatuh dari sepeda. Nah ini juga bukan hal yang jadi persoalan buat adek sepupu gw yang hobi manjat sana sini. Pertanyaannya adalah kenapa hal-hal ini yang jadi jawaban dia dan bukan hal yang udah pernah dia alamin? Misalnya dimarahin oleh Umi, atau rebutan Hot Wheels di rumah. Apa mungkin inilah yang diajarin di sekolah. Bantat…

Oiya ada 1 soal lagi yang menurut gw lucu banget. Soal pilihan ganda yang isinya sebuah gambar dengan 3 anak berbaris, dan ada 1 anak duduk di kursi. Anak yang di barisan terdepan lagi salaman sama yang duduk di kursi. Gambarnya gak jelas deh. Tapi entah kenapa adek sepupu gw nandain pilihan yang isinya ‘khitanan’. Menurut gw itu lucu bangeeet, kenapa bisa tau kalo itu khitanan coba?
Trus gw tanya “Kok kamu tau itu lagi sunatan?”. “Iya soalnya dia pake sarung.”
What? Hahaha XD yaampun deh, emang orang lagi duduk pake sarung trus disalamin itu pasti orang abis sunatan ya? Gimana kalo ternyata orang itu ustad, habib, atau bisa aja yang duduk di kursi dan pake sarung itu caleg dan orang-orang yang ngantri salaman itu warga yang mau liat langsung calegnya? Dan sekali lagi dengan miris, plus sedih, gw bilang bantat 😦

Gw sedih liat soal-soal macem ini. Pertama, gw gak nangkep maksud esensial pembuat soal itu apa? Apa sebenernya yang dia pengen anak-anak ini tau? Atau kah sebenernya ini cuma formalitas aja bikin soal? Atau mungkin sebenernya si pembuat soal ini gak punya tujuan jangka panjang apapun buat anak-anak ini? Atau bahkan sekedar peduli pun, apakah bener-bener punya? Duh black hats banget ya pertanyaan-pertanyaan gw ini.

Kedua, gw bisa membayangkan sekali akan seperti apa adek sepupu gw beberapa tahun ke depan dengan kondisi pendidikan macem ini. Mungkin akan jadi orang yang kalo disuruh bikin gambar pemandangan, maka yang tergambar adalah 2 pucuk gunung dengan matahari terbit, dan tak lupa hamparan sawah kotak-kotak di depannya? Hahaha miris sekali. Lack of imaginations!

Ini yang ngebuat gw sadar. Dulu gw suka berbangga karna pas SMP gw udh belajar IPA, IPS, Matematika pertambahan, perkalian, pembagian, dan sedikit aljabar dasar. Sedangkan kalo gw liat pelajaran sekolah ekspatriat di sebelah sekolah gw, anak SMPnya masih belajar yang kayak anak TK gitu. Menggambar, bikin-bikin kostum, pokokmya semua kegiatan belajar yang kayak main-main mulu gitu. Tapi ternyata anak-anak itu dikemudian hari jadi lebih maju (kemungkinan besar, agak sotoy sih). Lagi-lagi agak sotoy, mungkin karna pikiran mereka bebas berkembang, bebas berimajinasi. Bukan orang yang pikirannya ‘buku tulis dan buku pelajaran harus diberi sampul’ tapi ‘buku tulis dan buku pelajaran harus diberi stiker glow in the dark supaya kalo mati lampu gampang menemukannya’ 🙂

Coffee Bar

 

Kalo saya ini barista, maka hidup itu adalah macchiato, espresso, affogato, cappuccino, … name it!

Tentukan jenisnya, takar setiap komposisi, lalu bekerja ekstra teliti, tapi pakai hati,

Bahan apa pun bisa ditambah sesukanya. Tapi untuk rasa yang tepat? Cuma 1 kuncinya:

 

Tidak berlebihan, tapi bukan berarti berkekurangan. Pas!

Bad Day Pasti Berlalu (?)

“Kami memang miskin dan tampak semrawut, tapi kami bukan korban. Dan saat mengalami kesusahan, orang di sini melakukan apa yang selama ini dilakukan – mereka mencari jalan untuk beradaptasi dan bertahan hidup.” -Zakir Kibria, analis kebijakan publik via: NatGeoMagazine

Setelah 2 hari gw balik ke Jakarta, suasana suram kota ini kerasa banget. Banjir di mana-mana, akses sana sini keblokir. Tempat-tempat jadi lumpuh. Ratusan orang harus ngungsi. Sediih banget.

Walopun gw mungkin termasuk segelintir warga daerah Manggarai yang beruntung karna gak kebagian becek, tapi setiap hujan turun selalu bikin gw resah. Akan ada lebih banyak lagi yang kebecekan di luar sana, gak bisa tidur, kedinginan, atau bahkan hilang nyawa karna hanyut 😦

Dan yang lebih mengerikan dan meresahkan adalah bahwa kondisi cuaca buruk ini nyatanya gak cuman di Jakarta aja, di Sumatra, Sulawesi, dan bahkan Papua gak ketinggalan kena banjir. Apalagi pas tau kalo di Korea dan Cina juga terjadi cuaca buruk. Ada apa dengan Bumi kali ini ya?

Tapi dari semua cerita sedih ini, gw jadi inget satu cerita tentang orang-orang tangguh di negara miskin Bangladesh. Gw pernah baca ini di suatu tempat yang ternyata National Geographic Magazine Mei 2011. Negara ini diceritakan sebagai suatu tempat yang terkena perubahan cuaca ekstrem, ditambah pula dengan jumlah populasi manusia yang membludak. Dengan keadaan permukaan tanah yang rata-rata rendah, dan juga dialiri banyak sungai, dataran Bangladesh ini seriiiiiing banget kebanjiran. Baik itu karena musim hujan atau karena naiknya permukaan air laut. Kebayang gak sih air di mana-mana ditambah lagi dengan sesaknya manusia di dataran itu?

Tapi, dengan semua itu masyarakat Bangladesh sanggup berdamai dengan kondisi. Kalo gw baca nih mereka itu menjadi sangat adaptif dan bisa mengembangkan hal-hal kecil, sederhana untuk menaklukan kondisi. Tujuannya cuma satu, bertahan hidup. Dan dengan kelihaian (atau mungkin keterdesakan)  ini diceritakan bahwa mereka berhasil mengembangkan perawatan kesehatan dasar, meningkatkan pendidikan dan partisipasi kerja perempuan, pemangkasan populasi, inovasi bibit padi yang tahan air garam, dan bahkan untuk berkelit dari gonjang ganjing cuaca ini mereka membuat sistem rumah bongkar pasang yang bisa sewaktu-waktu dipindahkan ketika banjir, dan sejam kemudian sudah terbangun lagi! Walopun yaah, tetep sih itu gak sebanding dengan tingkat kemiskinannya (katanya sih gitu).

Bingung gak sih? Orang-orang ini makan apa ya bisa setangguh itu? Padahal deraan musibahnya (kalo gw liatnya mungkin musibah, kalo mereka mungkin kondisi alamiah?) bisa sepanjang tahun loh. Apalagi dengan tambahan perubahan cuaca yang menggila karena peran emisi dari negara-negara industri berkembang yang lagi doyan-doyannya membangun. Walopun emang sih mereka di supplay juga sama pihak-pihak luar yang dikukung komitmen buat memberi bantuan (atau ganti rugi?) terkait dengan perubahan iklim yang mereka prakarsai.

Dari sini keliatan banget nih sifat dasar manusianya, dalam keadaan-keadaan mepet gini. Naluri untuk bertahan hidupnya  mungkin jadi lebih besar ya? Istilahnya di majalah itu “kesulitan masa lalu menerbitkan harapan dahsyat”. 

Lalu apa nih yang kita punya? Yang masyarakat Jakarta punya buat menghadapi musibah yang udah berkerak kayak gini? Bangladesh punya semangat dan harapan yang tinggi. Lalu kita? Simpati dan empati yang tinggi kah? Setidaknya gw seneng ngeliat respon warga Jakarta lain yang gak terkena banjir, dan bahkan warga kota lain saling bahu membahu berusaha meringankan korban-korban yang bertebaran di banyak titik banjir Jakarta. Tapi, udah saatnya juga kita punya langkah adaptasi yang membuahkan inovasi juga dong ya?

Design for The Designers

Selama hampir 3 tahun, saat gw ngetik ini, gw adalah anak arsitektur interior. Dan selama ini pula gw sering banget kepikir “Orang-orang arsitek ini bikin banyak banget bangunan dan ruangan bagus-bagus, tapi kok studionya…”. Buat yang pernah main ke studio anak ars pasti bisa deskripsiin deh haha.

Ya, gw selalu kepikir orang-orang yang bikin bangunan bagus ini, yang bikin setiap ruang, setiap senti, setiap detailnya dengan pertimbangan berlapis dan bercabang ini kok kalo diperhatiin gak punya studio dengan kaliber desain yang serupa ya? Kok layout studionya gitu-gitu aja ya? Gak ada program ruang yang terdesain khusus sesuai dengan perilaku alami anak arsnya gitu ya? Rata-rata sama (sepenglihatan gw sih yang masih level teri di dunia desain ini), mau yang di dalem negri, ato di luar negri tipologinya sama @..@ Ini agak mengerikan gimanaa gitu.

Kita, anak ars, belajar tentang ergonomi atau human factor, yaitu gimana caranya desain yang kita bikin bisa meningkatkan kualitas hidup, efektifitas kerja, mengurangi kecemasan, meningkatkan kepuasan, dll. Diaplikasiin juga langsung ke desain-desain yang dibuat. Tapi ironisnya, itu cuma berlaku buat orang lain terkecuali anak ars. Kalo pernah liat cara kerjanya anak ars langsung, mana ada tuh yang merhatiin posenya kayak gimana, menclok sana, miring sini, bertebaran di lantai, nungging lah (extreme version). Bad postures! Yakin deh, sedikitnya anak ars pasti pernah ngalamin sakit badan, entah itu bagian mana. Gw sendiri pernah sampe radang otot punggung, yang gw sangka tulang punggung gw geser -_-“

Gw sampe googling gambar tentang desain yang emang khusus merancang studio buat anak-anak ars, tapi belom nemu titik terang. Yang gw temuin masih aja sample-sample serupa studio desain gw di kampus. Bahkan dari jaman bahela foto masih item-putih, kacamata bunder, rambut kribo gondrong juga kayak gitu modelnya! Arrrrghh >.< Nih coba liat beberapa sampelnya:

 

Studio Perancangan Arsitektur Interior UI (tapi sekarang udah digusur)

 

Studio Perancangan Arsitektur ITB

Nah kalo mau liat lebih banyak lagi sample di seluruh dunia, dari barbagai masa bisa liat di sini:

http://www.shootyourstudio.com

Coba bandingin dengan desain-desain yang mereka buat:

Google Office

Google Office New York

More pictures: http://www.home-designing.com/2009/10/googles-offices-from-around-europe

Facebook Office: http://izismile.com/2010/12/23/inside_facebook_offices_46_pics.html

Dan banyak lagi work space yang desainnya luar biasa: http://www.glantz.net/blog/from-evanston-to-istanbul-unbelievable-offices-around-the-world

Sangat wohoo yeye kan? Coba scroll lagi ke atas dan bandingin, yang di atas itu kalo dari kejauhan (menurut penglihatan gw sih) mirip sekelompok pengrajin tembakau 😥 Jauh berbeda.

Tau kenapa perusahaan-perusahaan itu mau menggelontorkan banyak uang buat bikin kantor kayak gitu? Ya! Itu karna mereka sadar kalo interioritas itu gede banget intervensinya terhadap kualitas kerja karyawannya. ‘Emotional Design’ kalo katanya Donald A. Norman, dan itu emang bener.

Tapi sekarang gw jadi kepikiran, mungkin gak ya bikin desain buat desainer? Kompleks gila-gilaan pasti subjeknya. Bisa radang otak mungkin yang mendesainnya? Siapa yang tau~ 😉

 

#CiliwungMalang

sungai ciliwung

Lagi-lagi stream-tweets yang gagal posting karna sinyal 😉

 

Selama berabad-abad, perannya adalah sumber kehidupan. Itu sebabnya terbentuk peradaban manusia berbasis sungai di sepanjang badannya. #CiliwungMalang

Sekarang, keberadaannya dianggap bencana kalo ujan. Dikala kering? Tempat menebar sampah. #CiliwungMalang

Dari yang dulunya mata air, menjadi air mata bagi sekelilingnya. Salah siapa? #CiliwungMalang

 

Ini ngingetin gw sama pelajaran sosial pas SD, IPS. Gw pernah tau kalo manusia dulu mengincar tepian sungai sebagai tempat membangun peradaban. Kenapa? Karna air itu anugerah, kebutuhan penting buat manusia, menyuburkan tanah,… Dan yang gw baca di buku Ekspedisi Ciliwung KOMPAS 2009 (bukan promosi yaa), memang seperti itulah peranan Ciliwung dulu. Saksi evolusi peradaban manusia pinggir sungai dari berabad-abad yang lalu. Bahkan di buku itu juga diungkit kalo Ciliwung sempet menjadi ‘wajah kota besar ini’.

Tapi sejalan dengan perkembangan peradaban, manusia-manusia ‘kota ini’ sepertinya sudah tidak menggantungkan hidupnya lewat anugerah aliran airnya. Yaiya dong ya, coba aja kita liat di sekeliling Ciliwung apa isinya? Gedung, bangunan, jalan. Gak ada lagi lahan-lahan yang bisa diari kayak jaman dulu. Malah sekarang jadi ‘halaman belakang’ buat manusia-manusia ‘kota ini’. Segala sampah dibuangnya  ya ke sini, dari sampah rumah tangga, industri, sampai sampah hasil sampah masyarakat (baca: korban kriminal) pun dibuangnya ke sini :’

Kalo jaman dulu sungai adalah anugerah karena airnya menjadi hal yang mulia bagi lahan-lahan kebun dan sawah, terus jaman sekarang, terutama di kota yang mungkin lahan kebun, sawahnya udah berkurang, gak jadi berharga lagi? Pasti ada konversinya dong ke bentuk yang mungkin lebih kompatibel buat lingkungan sekitar Ciliwung yang sekarang, dan mungkin bisa menghapus citra ‘si sumber banjir’. Dari situ kita bisa menuai manfaat lagi dari si Ciliwung ini kan? Pertanyaannya: Kapan kita sadar tentang pemanfaatannya dan kapan kita bergerak? Yuk sama-sama kita pikirin 🙂