TRINKETS AND WHAT IT BRINGS YOU TO

Saya selalu suka menjelajah sejak kecil.

Dulu sekali, saya biasa menjelajah hutan, sungai dan bukit-bukit sepulang sekolah ketika tinggal di Papua. Ketika dewasa dan tinggal di Jakarta, hutan, bukit, dan sungai tidak lagi mudah dijangkau. Jadilah saya memperluas area jelajah menjadi ke kota-kota jauh di barat, timur, selatan, utara dan pulau-pulau di sekitar Jawa, serta ke luar Indonesia.

Saya juga selalu suka mengumpulkan benda sejak kecil.

Benda ini maksudnya adalah printilan-printilan kecil yang kadang tidak jelas fungsinya. Kadang hanya sekedar benda yang menurut saya unik. Kadang berupa benda bekas sesuatu yang menurut saya mengandung memori, walaupun seringnya terlihat seperti sampah.

Ketika saya mengumpulkan sesuatu, berarti benda itu akan tetap ada sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga tahun lalu saya masih menyimpan doodle logo geng, surat cinta, dan hadiah ulang tahun dari sahabat saya ketika SD, walaupun akhirnya saya relakan untuk berpindah ke tempat sampah. Bahkan nomer HP yang saya gunakan sampai sekarang adalah nomer yang pertama kali saya beli ketika kelas 6 SD. Yap, saya memang setia, istiqomah, dan bisa menjaga rahasia :p (self-proclaiming won’t hurt anyone I suppose?).

Ternyata kedua kesukaan sejak kecil ini bercampur dan terbawa hingga sekarang. Selain foto, setelah berpergian pasti saya bawa setumpuk kecil tiket penerbangan, kartu kereta, kartu nama, SIM card, dll. Saya belum ingin membuangnya. Mungkin nanti, entah kapan.

Continue reading →

Banyuwangi

Dari mana dek?

Jakarta Pak.

Jakarta? Bohong kamu ya? Pasti orang Banyuwangi kan? Kabur kamu dari rumah?

Wah engga pak beneran kita dari Jakarta. Ini kita lagi liburan dan penasaran aja pengen nyebrang ke Bali.

 

2014. Sore itu saya dan seorang teman sedang duduk-duduk di tangga tepian kapal ferry menuju Bali, mencium butiran udara laut yang terciprat ke muka kami. Ketika itu bapak yang duduk tidak jauh dari kami membuka percakapan yang saya ingat jelas. Bukan karena bapak itu dengan semena-menanya mengira kami gadis banyuwangi yang sedang minggat, tapi karena saya tidak menyangka kalau perjalanan yang saya tempuh dari Jakarta ke Banyuwangi itu jauh untuk ukuran dua mahasiswi seperti kami. Entahlah, menurut persepsi saya, karena saya sudah mengantongi ijin dari ortu, itu jarak yang biasa saja. Toh semua orang bisa naik kereta, naik bus, dan juga ferry.

Continue reading →