TRINKETS AND WHAT IT BRINGS YOU TO

Saya selalu suka menjelajah sejak kecil.

Dulu sekali, saya biasa menjelajah hutan, sungai dan bukit-bukit sepulang sekolah ketika tinggal di Papua. Ketika dewasa dan tinggal di Jakarta, hutan, bukit, dan sungai tidak lagi mudah dijangkau. Jadilah saya memperluas area jelajah menjadi ke kota-kota jauh di barat, timur, selatan, utara dan pulau-pulau di sekitar Jawa, serta ke luar Indonesia.

Saya juga selalu suka mengumpulkan benda sejak kecil.

Benda ini maksudnya adalah printilan-printilan kecil yang kadang tidak jelas fungsinya. Kadang hanya sekedar benda yang menurut saya unik. Kadang berupa benda bekas sesuatu yang menurut saya mengandung memori, walaupun seringnya terlihat seperti sampah.

Ketika saya mengumpulkan sesuatu, berarti benda itu akan tetap ada sampai bertahun-tahun lamanya. Hingga tahun lalu saya masih menyimpan doodle logo geng, surat cinta, dan hadiah ulang tahun dari sahabat saya ketika SD, walaupun akhirnya saya relakan untuk berpindah ke tempat sampah. Bahkan nomer HP yang saya gunakan sampai sekarang adalah nomer yang pertama kali saya beli ketika kelas 6 SD. Yap, saya memang setia, istiqomah, dan bisa menjaga rahasia :p (self-proclaiming won’t hurt anyone I suppose?).

Ternyata kedua kesukaan sejak kecil ini bercampur dan terbawa hingga sekarang. Selain foto, setelah berpergian pasti saya bawa setumpuk kecil tiket penerbangan, kartu kereta, kartu nama, SIM card, dll. Saya belum ingin membuangnya. Mungkin nanti, entah kapan.

 

THE POUCH

Setiap berpergian saya selalu membawa sebuah pouch berisi tiket, kartu identitas, note book kecil, pulpen, sedikit uang, dan benda penting lainnya yang perlu selalu keluar-masuk selama perjalanan. Supaya ringkas!

Setiap pulang dari perjalanan pouch ini selalu bertambah tebal dan tebal, hingga susah ditutup. Saya belum ingin mengurangi isinya.

Picture1

Yaelah penting amat ngebahas pouch?

Bisa dilihat ini sebetulnya cuma pouch gratisan souvenir nikahan teman saya. Tapi karena pouch wajib ikut di setiap perjalanan saya, benda ini rasa-rasanya bagian dari tim perjalanan yang punya sejarah sendiri.

Ini pouch baru, dulu pouch saya berwarna hitam dengan corak bulat-bulat putih. Lebih dari separuh perjalanan saya ke separuh belahan dunia selalu bersama pouch ini. Mulai dari naik bus malam PO Budiman yang ugal-ugalan ke Pangandaran selepas menghadiri wisuda senior kampus, hingga kebingungan mencari mushola di Bandar Udara Narita sendirian. Perjalanan saya bersama pouch ini berakhir di Frankfurt ketika saya dicopet saat naik metro di hari pertama kedatangan saya di sana.

Jadi, ketika melihat pouch baru ini saya selalu teringat pouch lama. Sedangkan, pouch lama membawa ingatan saya ke masa-masa awal perjalanan saya serta €1300, sebuah flash disk, dan beberapa lembar pas foto yang raib di Jerman.

Yah setidaknya saya belajar untuk selalu menggembok ransel, tidak menyimpan uang cash di satu tempat, dan tidak lengah di kota yang saya anggap maju sekali pun.

 

I GOT A MUSEUM IN A POUCH

Suatu hari saya berniat merapikan lemari, dan si pouch gembung menarik perhatian saya. Setelah susah payah mencoba mengeluarkan isinya, setumpuk kertas terbuyar dari dalamnya. Sebagian masih jelas tintanya, sebagian agak kotor berbintik-bintik, dan sebagian lainnya harus diarahkan ke lampu untuk melihat tulisannya.

20180217_113347

Yang membuat saya takjub sendiri adalah seberapa pun remeh temehnya kertas itu, tidak ada yang saya lupa dari mana asalnya, dan apa cerita di baliknya. Saya menemukan tiga kartu pulsa Orange, salah satu provider telepon seluler Jordania, bernilai 5JOD, secarik kertas berisi email dua orang teman pelancong, kalau tidak salah asal Kanada, yang kami temui di Goa Jomblang, setumpuk boarding pass, dan sampah-sampah lain.

20180217_113757

20180217_113854

Mirip dengan foto, sampah-sampah perjalanan membangkitkan memori, namun dengan cara yang berbeda. Setidaknya begitu menurut saya. Foto menyajikan memori yang subjektif dengan pusat kendali sepenuhnya ada di si pemotret. Timing, sudut pengambilan gambar, objek yang dipilih, apa yang ingin ditampilkan, dan apa yang tidak ingin ditampilkan sepenuhnya ditentukan oleh pemotret. Sedangkan sampah perjalanan lebih objektif, setidaknya dia bersifat dua-arah. Ada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan ketika kita menyerahkan boarding pass, entah ketika itu kita bisa dengan mulus masuk, atau tertinggal pesawat dan harus bermalam di bandara untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal ferry keesokan siangnya. Ada hal-hal yang tidak bisa diprediksi, tidak diharapkan, bahkan mengejutkan.

20180217_114011

Tiket ferry Singapur – Batam setelah bermalam di Changi karena tertinggal pesawat. Dikira homeless  sama homeless yang bermalam di sana.

Ternyata sampah-sampah ini yang membentuk memori perjalanan paling lengkap. Saya baru sadar..

Mungkin kedepannya pouch saya tak akan muat lagi. Mungkin pouch ini akan digantikan map yang lebih besar, lalu kontainer, lalu lemari, lalu…

 

 

 

***

Note: 

tulisan ini bagian dari Resolusi 2018 Q1

#consumeless #producemore

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s