Banyuwangi

banyuwangi

Dari mana dek?

Jakarta Pak.

Jakarta? Bohong kamu ya? Pasti orang Banyuwangi kan? Kabur kamu dari rumah?

Wah engga pak beneran kita dari Jakarta. Ini kita lagi liburan dan penasaran aja pengen nyebrang ke Bali.

 

2014. Sore itu saya dan seorang teman sedang duduk-duduk di tangga tepian kapal ferry menuju Bali, mencium butiran udara laut yang terciprat ke muka kami. Ketika itu bapak yang duduk tidak jauh dari kami membuka percakapan yang saya ingat jelas. Bukan karena bapak itu dengan semena-menanya mengira kami gadis banyuwangi yang sedang minggat, tapi karena saya tidak menyangka kalau perjalanan yang saya tempuh dari Jakarta ke Banyuwangi itu jauh untuk ukuran dua mahasiswi seperti kami. Entahlah, menurut persepsi saya, karena saya sudah mengantongi ijin dari ortu, itu jarak yang biasa saja. Toh semua orang bisa naik kereta, naik bus, dan juga ferry.

*

Sering kali saya punya keinginan random. Kali ini ingin ke tempat terbuka yang masih alami, dan teman saya mengusulkan TN. Baluran sebagai destinasi. Kenapa tidak?

Setelah puasa belanja ini itu demi biaya perjalanan, kami resmi berangkat berdua karena kebanyakan teman yang kami ajak, antusias hanya sampai wacana. Tak apalah, berdua atau berdua belas sama saja, yang penting jadi ke sana.

*

Pagi-pagi sekali, dari penginapan kecil yang letaknya tepat di depan Stasiun Banyuwangi, kami menumpang angkot yang membawa kami ke terminal bus untuk menumpang salah satu Bus AKAS. Bus yang kami tumpangi cukup sepi, hanya ada beberapa ibu-ibu dengan dialek aneh dan kami berdua. Konon katanya di Banyuwangi ini banyak orang Madura, jadi tebakan saya mungkin saya baru saja bertemu beberapa. Saat seorang ibu asyik mengorek-ngorek telinga dengan lintingan struk belanja, saya tertarik memperhatikannya dan mencoba mendengarkan percakapan mereka. Sia-sia, tak satu pun kata yang familiar di telinga, padahal ini Pulau Jawa!

*

Ketika itu musim hujan, jadi kami tidak berharap melihat hamparan sabana yang menjadi primadona TN. Baluran. Taman itu sepenuhnya hijau dan sepenuhnya kosong ketika kami datang. Untuk menuju ke jantung taman ternyata jarak tempuhnya sekitar 5km, dengan tambahan 3km jika ingin mencapai Pantai Bama. Karena sadar kami bisa mampus di tengah jalan, akhirnya diputuskan untuk menyewa sepeda motor. Jangan bayangkan ini sepeda motor biasa yang sering dipakai ibu-ibu ke pasar, ternyata ini jenis yang lebih ramping dengan shock breaker untuk meredam guncangan jalan tanah yang tak rata. Untunglah saya tak perlu mengendarainya sendiri, sepeda saja baru saya kuasai ketika SMA. Jadi kami berboncengan melewati jalan tanah menembus hutan. Bisa dikatakan ini perjalanan yang paling surreal buat saya, karena hampir di sepanjang jalan, tanah di bawah kami dihinggapi ribuan kupu-kupu berbagai warna. Saya anggap ini sebagai sambutan taman untuk kami karena setiap melewati gerombolan kupu-kupu mereka terbang menghindar seperti taburan confetti pesta.

*

Di tengah Taman Baluran ada pos jaga, beberapa penginapan yang kosong melompong, serta papan selamat datang yang dihiasi gantungan tengkorak kerbau (atau rusa?). Kami taruh motor sewaan di parkiran penginapan yang dipenuhi kera, lalu memutuskan untuk mendaki menara pandang. Saat itu sekitar jam 11 siang. Jika kami datang di musim kemarau biasanya akan ada gerombolan rusa yang keluar untuk minum di genangan air bekas hujan. Sayang, ketika itu sepi dan hanya ada segerombolan rusa yang merumput di balik pepohonan. Tak apalah, pemandangan dari atas sini, ditambah dengan sejuknya semilir angin musim hujan, juga terasa menyenangkan. Tak tahan kami hanya memandang-mandangi kumpulan rusa di bawah, kami pun akhirnya turun untuk merapat lebih dekat dan mengambil beberapa foto binatang itu di habitatnya. Perlahan kami mengendap menerobos sesemakan yang rantingnya mencakar tangan dan kaki kami. Betah sekali kami berlama-lama di sana, mereka begitu anggun dengan leher jenjang dan pucuk tanduk runcing bercabang. Tiba-tiba hujan turun ketika kami sedang berada di tengah-tengah padang. Tidak deras, tapi sempat membuat kami menyesal tidak membawa jas hujan yang tersimpan di jok motor, jadi kami bernaung di bawah pohon bersama para kera. Untungnya hujan turun tidak lama, karena saya mulai khawatir kera-kera itu jadi penasaran dengan kamera dan perbekalan lain dan mulai berubah jadi pencopet.

*

Pantai Bama, ujung timur TN. Baluran, hanya berjarak sekitar 3km dari pusat taman, jadi kami memutuskan untuk makan siang di sana. Dengan motor kami melintasi tanah lembek bekas hujan selama sekitar 10 menit. Menarik sekali melihat pemandangan berubah dari padang rumput hijau menjadi pepohonan kelapa beralas pasir putih. Yang tetap sama adalah kera-kera yang bergelayut di sana sini.

Lagi-lagi kami menemukan tempat yang hampir kosong melompong, hanya kami dan sekelompok kecil pemuda umur pertengahan 20an yang sedang asyik mengobrol santai sambil merokok. Karena sudah terlalu lapar, kami tidak terlalu peduli sekitar dan langsung merobek roti bantal yang kami bawa. Barulah setelah perut terganjal dan solat di mushola kecil, kami mulai menjelajah sekitar. Pantai ini tidak besar, tapi bersih dan terlihat bersahabat untuk bersantai. Jadi, ketika saya menemukan pohon yang mudah dipanjat, saya langsung ambil posisi nyaman di atas dahan dan bersantai menikmati aroma laut serta pantai yang tenang.

*

Selain pantai dan padang rumput, di sana juga ada hutan bakau. Hutan ini sudah memiliki akses yang bagus untuk pengujung, jadi kami tak perlu berbasah-basah melewati akar mencuat tanaman bakau melainkan bisa dengan melewati jalur setapak kayu sembari ditontoni para kera. Di ujung setapak ada rumah panggung kecil terbuka untuk menikmati pemandangan. Beruntungnya saat itu tidak ada pengunjung lain selain kami, jadi kami puas memandangi laut dengan tepian hutan bakau sambil mengamati kesibukan dua orang bapak-bapak yang berendam sedada sembari menjaring sesuatu dari dalam air.

*

Sekitar pukul 3 sore kami sudah selesai menjelajah bentang selatan dan timur TN. Baluran dan berdiri di tepian jalan, menunggu bus mengangkut kami kembali ke penginapan. Tapi matahari masih tinggi, jadi kami menyeberang ke pelabuhan terpadu yang modern, membeli tiket ferry tujuan Bali, dan menunggu tumpangan selanjutnya ke tanah seberang.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements