MULTITASKING? YAY OR NAY?

marco_roso_multitasking

Ngerjain tugas, sambil makan selagi nunggu kereta.

Atau,

Rapat, sambil nonton kantek show, sekaligus ngoreksi tugas mentee.

***

Sepertinya saya seorang multitasker. Sangat gandrung dengan efektifitas dan kecepatan, semua gerakan terukur dan berstrategi.

“Naik ke lantai 2 harus sambil bawa buku, keranjang laundry, gelas, HP plus charger, peniti, dan handuk. Rutenya harus naro keranjang laundry, lalu ke meja dekat dispenser untuk naro buku dan gelas serta nge-charge HP, kemudian ke kamar dan naro peniti di meja rias, dan terakhir ke gantungan handuk untuk naro handuk. Tidak boleh melewati 1 jalur lebih dari sekali, setiap pergerakan harus seefektif mungkin.”

Multitasking terdengar keren pada awalnya. Serba bisa meng-handle ini itu dalam waktu bersamaan. Bagai bertangan 5! Efektif memang, dan selalu ada rasa puas setiap kali selesai menerapkan strategi untuk melakukan suatu aksi multitasking. Jujur aja, saya memang tergila-gila dengan strategi dan efektifitas.

Tapi, apakah memang seperti itu otak kita bekerja?

***

mul·ti·task·ing

the ability to do several things at the same time [1]

Apa itu multitasking pasti kita udah fasih lah ya dengan istilah ini. Bahkan kegiatan ini pasti udah jadi bagian dari cara kita bekerja, terutama pengguna gawai. Berkirim email, sambil bales chat, ditambah sesekali ngintip media sosial yang lain, hanya dalam satu layar. Yap, selamat bergabung multitasker!

Nah, persepsi kita mengatakan bahwa dengan mengerjakan banyak hal sekaligus, kita menjadi lebih produktif dan bisa menyelesaikan banyak hal bersamaan [2]. Harapan kita seperti itu, setidaknya. Yakin?

Ternyata multitasking menghasilkan lebih banyak kesalahan dalam pekerjaan. Durasi yang dibutuhkan pun cenderung lebih panjang dibandingkan mengerjakan dengan fokus ke 1 pekerjaan [3]. Hal ini dikarenakan otak membutuhkan waktu antara untuk berpindah dari satu aktifitas ke yang lainnya agar bisa mendapatkan fokus yang dibutuhkan . Namun nyatanya perpindahan antar aktifitas yang kita lakukan terjadi begitu cepat, sehingga sering kali aktifitas yang sebelumnya kita lakukan masih belum sepenuhnya hilang dari memori ketika sedang mengerjakan aktifitas berikutnya. Fenomena ini mungkin bisa menjelaskan banyaknya kesalahan yang terjadi ketika melakukan multitasking [4].

Selain itu, dengan banyaknya hal yang ingin dikerjakan bersamaan, otak juga mengalami information overload. Terlalu banyak informasi yang ingin diproses di sekitar kita membuat otak bingung untuk memproses informasi. Akibatnya memori yang terbentuk hanya sekelebat saja lalu hilang [5]. Pernah melakukan satu hal terus lupa? Nah, kira-kira seperti itu, jadi mudah lupa.

Multitasking menuntut otak untuk bisa memecah-mecah konsentrasi, bolak-balik dari satu aktifitas ke yang lainnya. Pengulangan aktifitas seperti ini ikut membentuk ulang alur keluar-masuk informasi di otak [6]. Mengerjakan satu hal saja jadi terasa menggelisahkan, sedikit-sedikit gatel pengen ngintip chat, buka-buka email padahal gak butuh, eh tiba-tiba jadi baca artikel di web. Otak telah merubah cara kerjanya, menyesuaikan dengan tuntutan kita. Sebesar itu harga yang harus dibayar untuk multitasking!

***

Hingga satu titik, saya stress.

Rasanya mudah sekali lupa, hal-hal kecil, hal-hal besar, dan hal-hal yang seharusnya mudah diingat. Kenapa ya? Untuk fokus ke satu hal jadi terasa berat, saya kelimpungan dengan sekeliling yang kesemuanya meminta perhatian. Mudah sekali terdistraksi dari satu ke lain hal. Duh, otak saya kepenuhan!

Umi saya bilang, dari dulu saya terlampau suka mengerjakan banyak hal. Susah untuk fokus, dan ingin ini ingin itu banyak sekali seperti Nobita. Lalu saya diberi tips jitu:

Baca bismillah setiap sebelum mengerjakan sesuatu.

Ada yang baru menghidupkan lampu di otak saya! Ya, saya butuh tanda antar satu kegiatan dengan yang lainnya, sehingga jelas sedang di tahap apa sekarang.

Jadi begitu ya… 🙂  Serasa menemukan satu rahasia.

***

Saya jadi ingat, ada satu surat yang sering dibaca kalau lagi galau, surat Al-Insyirah [7]. Begini terjemahannya:

  1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,
  2. Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,
  3. yang memberatkan punggungmu,
  4. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.
  5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
  6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
  7. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk (urusan yang lain),
  8. dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Selama ini saya hanya berfokus pada ayat-ayat awal yang berisikan tentang beban-beban hidup. Maklum hidup ini keras (?) Ternyata ada pesan lain diakhir surat.

Terlepas dari seperti apa tafsirnya, makna dua ayat terakhir ini memberi jawaban tentang seperti apa seharusnya manusia bekerja:

  1. Bekerjalah sampai tuntas dengan totalitas dalam satu urusan. Lalu tuntaskan yang lainnya, satu-satu.
  2. Selalu ingat Tuhanmu.

Sebagaimana Dia menciptakan manusia, tentu Dia juga yang paling tau apa paling baik untuk ciptaanNya. Alhamdulillah, ketemu jawabannya 🙂

 

Referensi:

[1] “Multitasking.” Merriam-Webster.com. Merriam-Webster, n.d. Web. 12 Sept. 2016.

[2] Summer, Allen. “The Multitasking Mind.” BrainFacts.org. Society for Neuroscience, 9 Oct. 2013. Web. 12 Sept. 2016.

[3] idem

[4] “When We Forget to Remember – Failures in Prospective Memory Range From Annoying to Lethal.” Association for Psychological Science. Association for Psychological Science, 31 July 2012. Web. 12 Sept. 2016.

[5] idem

[6] Summer, Allen. “The Multitasking Mind.” BrainFacts.org. Society for Neuroscience, 9 Oct. 2013. Web. 12 Sept. 2016.

[7] Abu, Adib. “Tafsir Al Insyirah.” Tafsir Al Quran Al Karim. Tafsir Al Quran Al Karim, 15 Mar. 2013. Web. 12 Sept. 2016.

 

 

 

Advertisements