DIPUJI & MEMUJI

Ketika kita melihat suatu kebaikan pasti kita ingin mengamini perbuatan tersebut, mungkin salah satunya dengan memuji. Memberi pujian kepada orang yang berbuat baik bisa menyenangkan hati orang tersebut, dan hal tersebut sesuai dengan akhlak seorang muslim yaitu menyenangkan hati saudaranya.

Tapi.. dalam memuji itu kita harus hati-hati, jangan-jangan pujian kita itu justru merugikan saudara kita.

 

Kanker

Selayaknya kanker yang bisa blusukan ke jaringan tubuh tanpa terdeteksi, riya’ (suka dipuji), sum’ah (suka didengar), ujub (merasa paling hebat) dkk bisa mudah masuk ke hati kita ketika merasakan kesenangan dipuji. Siapa sih yang gak seneng dipuji? Ngaku ajalaah.

Sebenernya, gak ada yang salah dengan merasa senang ketika dipuji, tapi akan menjadi masalah ketika kesenangan itu menjadi candu. Melakukan kebaikan akhir-akhirnya berharap balasan dari manusia dan bukannya dari Allah swt.

Kalau niatnya udah kayak gini bisa jadi terjerumus ke syirik (mempersekutukan Allah) asghar (kecil). Bahkan bisa jadi syirik akbar (besar) kalo bener-bener niatnya dari awal buat pujian doang.[1]

Selayaknya kanker yang bisa membabat habis kebaikan di tubuh kita, riya’, sum’ah, ujub, dkk dapat membakar habis pahala amalan kita. [2]

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”

(Al-Furqan: 23)

Bayangin kalau kita udah beramal, terus ketika ditimbang ternyata semuanya ilang tanpa bekas kayak debu ditiup angin. Kalo gw sih sedih bakalan :”Naudzubillah deh.

 

Gimana kalau tadinya ikhlas, dan ketika dipuji jadi terbetik riya’?

Pernah terjadi suatu kegalauan yang kira-kira seperti ini:

B: Ustazah gimana ya kalau aku udah berniat ikhlas ngingetin orang untuk sesuatu yang baik, tau-tau pas dipuji jadi ngerasa riya’? Aku jadi berpikir buat gak usah lagi deh sok-sok ngingetin kayak gitu takut malah jadi habis amalannya..

U: Nah itu dia siasatnya syaithan, membuat kita jadi ragu untuk berbuat baik. Kalau kayak gitu jangan malah jadi berhenti ngelakuin kebaikan, itu berarti kita udah tertipu skenarionya syaithan. Tetap lakukan apa yang baik sambil berusaha meluruskan niatnya.

B: Tapi kalo kayak gitu amalan yang terbetik riya’ itu pahalanya hilang dong?

U: Pahala amalan itu ada kadarnya sesuai keikhlasan niat kita. Kalo bener-bener ikhlas ya bisa dapet 100%, kalo terbetik riya’ dkk ya bisa aja hanya 60% misalnya. Tergantung hati kita, tapi yang penting jangan malah berhenti berbuat baik.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzarr ra. bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang melakukan perbuatan baik, lalu ia dipuji orang?”

Rasulullah menjawab, “Itu adalah berita gembira yang datang di dunia untuk seorang mukmin.” [3]

 

Menghindarinya

Untuk bisa ikhlas 100% dalam berniat itu tantangan yang susah banget karena penyakit hati bisa menimpa siapa aja, bahkan para sahabat dan orang alim sekali pun.

Rasulullah pernah bersabda kepada sahabat-sahabatnya:

Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya “[4]

Sesuatu yang aku khawatrikan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: ‘(contohnya) adalah riya’ ”[5]

‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).”[6]

Nah supaya tidak merugikan saudara yang kita puji, dan supaya terhindar dari riya, maka..

Untuk yang memuji, bacalah:

Maasyaa Allaah laa quwwata illaa billaah, allaahumma baarik ‘alaih

‘Maasyaa Allaah (atas kehendak Allah), tidak ada kekuatan melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah. Yaa Allah, berikanlah berkah padanya.’ [7]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” [Hadits shahih, riwayat Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (II/716 no.2), Ibnu Majah dalam Shahih-nya (II/265) dan Ahmad dalam Musnad-nya (III/447)] [8]

Untuk yang dipuji

Karena urusan hati ini sangat rentan, udah sepatutnya kita meminta kepada Yang Maha Membolak-Balik Hati supaya dijauhkan dari penyakit hati ini. Maka berdoalah:

Allahumma innaa na’uudzubika minal kufri wal faqr wal fusuuki wannifaaki wasy syiqooqi wa suuil akhlaaqi wa dhiiqil arzaaqi was sum’ati war riyaa

‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kekafiran, kefakiran, kefasikan, kemunafikan, perpecahan, perilaku buruk, rizki yang sempit, sifat sum’ah dan riya.’

 

***

40_60

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. […]”

(Al-Ghafir: 60)

 

Referensi:

[1] Mianoki, Adika. 2011. Riya Penghapus Amal. Web. http://muslim.or.id/aqidah/riya-penghapus-amal.html

[2] Almath , Muhammad Faiz. 1991.1100 Hadits Terpilih. Gema Insani Press. Web. http://www.ddhongkong.org/download/e-book-islami/1-100-hadits-pilihan/

[3] Az-Zuhaili, Wahbah. 2013. Ensiklopedia Akhlak Muslim: Berakhlak dalam Bermasyarakat. Jakarta: Noura Books

[4] Mianoki, Adika. 2011. Riya Penghapus Amal. Web. http://muslim.or.id/aqidah/riya-penghapus-amal.html

[5] ibid.

[6] ibid.

[7] Al-Muhajirin, Ibnu Isma’il. 2010. Adab Memuji. Web. http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2010/01/adab-memuji.html

[8] ibid.

Advertisements