Yang Tersembunyi Di Balik Layar-Layar Itu

cockpit-photo

Setelah tahun lalu diramaikan oleh peristiwa MH370, yang sampe sekarang masih buram, dan MH17 yang jatuh di Ukraina, awal tahun 2015 ini sepertinya masih disambut dengan peristiwa yang sama. Udah seminggu lebih berbagai siaran berita meng-update kabar muram tentang AirAsia QZ8501 yang jatuh di dekat Pangkalan Bun dalam perjalanannya menuju Singapura. Banyak keluarga yang tiba-tiba kehilangan anggota keluarganya dan sepertinya gak ada korban selamat.

Perjalanan udara yang biasanya ditunggu-tunggu dan menyenangkan, karena ini artinya pulang dan bertemu keluarga, malah jadi pengalaman yang penuh waswas. Terlebih karena banyak anggota keluarga yang lumayan intens menggunakan jenis transportasi ini, gak mungkin deh melepas pergi tanpa cemas. Apa karena banyaknya pemberitaan tentang pesawat jatuh akhir-akhir ini? Yap, tapi itu hanya salah satunya..

***

Suatu pagi, tepatnya minggu kemarin, entah tanggal berapa, sekilas terdengar perbincangan antara presenter dengan seorang pengamat penerbangan yang menjadi narasumber. Entah apa topiknya, yang jelas perbincangan ini seputar peristiwa AirAsia yang sedang intens dibahas seminggu ini.

Pada penerbangan modern trennya adalah ketika kondisi tidak terkendali pilot menyerahkannya pada auto-pilot dan bukan sebaliknya.

Mungkin tidak persis begitu, tapi itu penyataan si pengamat penerbangan (sayang sekali gw gak catet namanya siapa -,-“) yang langsung seharian terngiang-ngiang di kepala.
Sebetulnya ini bukan pernyataan yang sebegitu mengejutkan atau semacamnya, ini pernyataan yang bikin ngeri! Ini seperti melemparkan bukti-bukti yang gw lihat langsung secara real time, yang membuktikan karya Nicholas Carr, The Glass Cage, yang baru aja selesai dibaca.

Buku ini membahas otomatisasi dari berbagai bidang dan sudut pandang, tentang bagaimana kehadirannya membawa manfaat, begitu pun kerugian. Dari pemahaman gw terkait buku ini, otomatisasi adalah suatu upaya melakukan pekerjaan dengan seminim mungkin campur tangan manusia. Posisi manusia diganti dengan alat atau rentetan kode yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan tingkat akurasi dan efisiensi tinggi [1].

Ketepatan dan efisiensi adalah hal yang diharapkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, dan ini tidak sesuai dengan kondisi manusia. Ketidaktepatan, performa tidak stabil, dan kelelahan adalah habitat manusia yang gak bisa lepas dari limitasi fisik, psikis, dan pengaruh emosinya. Sebaliknya, hal ini tidak berlaku pada mesin, perangkat lunak, dan alat lainnya, walaupun benda-benda ini bisa rusak juga [2]. Jelas mesin mengungguli manusia dalam hal akurasi dan efisiensi.

Selain keunggulan ini, otomatisasi juga membawa mimpi-mimpi utopis tentang kebebasan manusia. Dengan mesin-mesin menggantikan peran manusia mengerjakan berbagai pekerjaan, manusia dapat bebas mengeksplorasi diri ke tingkat yang lebih tinggi [3]. Namun, tidak selamanya mimpi utopis itu mewakili hal yang terbaik untuk manusia.

Di buku ini Carr menjelaskan implikasi kebebasan-ala-otomatisasi melalui studi kasus di berbagai bidang seperti, buruh, pilot, dokter, arsitek, dll. Pada akhirnya gw berkesimpulan bahwa hubungan otomatisasi dengan manusia itu berbentuk kurva mangkok terbalik dengan tingkat otomatisasi sebagai sumbu-X dan kemampuan manusia sebagai sumbu-Y. Hingga titik tertentu, otomatisasi akan meningkatkan kemampuan manusia secara progresif, dan setelahnya meluncur bebas ke titik terendah secara drastis. Mungkin sedikit gambarannya mulai terlihat dalam tren penerbangan saat ini.

Jauh sebelum kokpit pesawat didandani dengan layar navigasi dan fitur canggih, seperti auto-pilot, menerbangkan pesawat manual adalah bagaimana menguasai serangkaian tuas, kabel, katrol, dan pedal. Alat-alat ini menghubungkan pilot langsung dengan bagian-bagian pesawat. Jika pilot melakukan sesuatu, maka bagian-bagian pesawat akan memberikan reaksi langsung kepada pilot. Seperti halnya mengayuh sepeda, ketika pedal dikayuh maka roda memberikan reaksi langsung berupa rotasi yang menimbulkan gerakan maju atau mundur. Aksi-reaksi ini menjadikan pilot sebagai bagian dari pesawat, dan sebaliknya pesawat adalah ekstensi tubuh pilot. Semakin pilot mengenal pesawat tersebut, semakin menyatu pula antara pilot dengan pesawat [4].

Appealing to a dynamic understanding of habit, repetition or continuity of an action makes movement easier, reducing sensation (and particularly uncomfortable sensations). […] a pleasurability in motion that is gained through repetition as movement becomes increasingly effortless over time. This coincidence of ease with pleasure emerges from the bodily transformations that take place through repetition and work to carve out passage of movement; shapes of action that can be inhabited with ease and that we yield to. The powers of habit, therefore, become as significant a part of the entubulated infrastructures of mobility as the spatial architectures that compose these space. [5]

Bisa dibilang pesawat manual adalah infrastuktur atau bentuk arsitektural yang membuka jalur-jalur baru dalam mengalami ruang. Atau, dalam pandangan Carr, alat yang dapat mengekstensi kemampuan tubuh manusia [6].

Lain halnya dengan pesawat manual yang membutuhkan keterlibatan pilot sepenuhnya, pesawat modern dengan fitur auto-pilot hanya membutuhkan sedikit peran pilot. Beberapa menit saat take-off, beberapa menit lagi saat landing, dan selebihnya memantau layar-layar navigasi untuk memastikan auto-pilot bekerja dengan semestinya. Semakin otomatis sebuah pesawat, semakin berkurang pula beban kerja dan peran pilot. Tinggal lah pilot dengan tugas mem-babysit layar-layar canggih [7].

Seperti kemampuan-kemampuan lain yang bisa karatan kalau jarang dilatih, kemampuan menerbangkan pesawat juga bisa mengalami keusangan. Ketika seseorang tidak terbiasa dengan suatu hal maka eksekusinya tidak akan se-otomatis orang yang terlatih [8]. Faktanya adalah, menurut Federal Aviation Administration atau FAA, pilot semakin bergantung pada fitur auto-pilot yang bisa berakibat pada turunnya kesigapan dalam menangani kondisi-kondisi sulit [9]. Ini memperlihatkan bahwa kemudahan yang dihadirkan fitur auto-pilot begitu menarik untuk digunakan dalam menerbangkan pesawat. Yaiyalah, kalau ada yang mudah kenapa memilih yang sulit? Begitu mungkin pikir kita.

Namun, nyatanya tidak semua hasrat dan keinginan manusia adalah yang baik dan benar-benar diinginkannya. Bukan tidak mungkin mimpi utopis tentang kebebasan-ala-otomatisasi itu bukanlah keinginan yang sebenarnya ingin dicapai. Mihaly Csikszentmihaly dan Judith LeFevre menemukan, dari penelitiannya terhadap pekerja kantoran dalam jumlah besar, bahwa manusia justru merasa bahagia dan utuh saat dia mengerjakan hal sulit yang menguji kemampuannya dibandingkan di saat bersantai. Manusia akan merasa nyata ketika keseluruhan dirinya terlibat secara aktif dalam suatu hal. Lucunya, kita merasakan yang sebaliknya terhadap bekerja dan bersantai [10].

Otomatisasi dan keinginan yang bertolak belakang ini membuat gw berkesimpulan bahwa mungkin selama ini kita tidak benar-benar tau apa yang terjadi pada diri kita. Semua teknologi terbaru, semua cara mempermudah pekerjaan, kita lahap habis tanpa berusaha tau apa yang mungkin bisa direngutnya. Di satu sisi manusia adalah makhluk cerdas yang dianugerahi akal, dapat membuat berbagai fitur otomatisasi yang dipercaya lebih hebat darinya, dan sebagainya, namun di sisi lain mudah terombang-ambing oleh nina-bobo persepsi umum di masyarakat yang bulat-bulat kita terima.

Bukankah ini saat yang tepat untuk meninjau kembali diri kita dan hakikat menjadi manusia?

***

“… the plane’s automatic stall-avoidance system kicked in and attempted to push the yoke forward, but the captain simply redouble his effort to pull it back toward him. Rather than prevent a stall, Renslow caused one. The Q400 spun out of control, then plummeted. “We’re down,” the captain said, just before the plane slammed into a house in a …” [11]

Kecil, nyempil di pesawat yang besar, melayang-layang di atas Samudera Pasifik, sendirian dengan tempat duduk terpisah jauh dari adek, dan masih harus melalui belasan jam perjalanan. Salah nih gw baca ginian!

Tiba-tiba keinget beberapa bulan lalu mules baca The Glass Cage di atas pesawat. Di latar belakang, sayup-sayup suara presenter berita meng-update kabar terbaru AirAsia QZ8501 dan gw sedang brain-freezed. Entah apa hubungannya, tapi hari ini gw juga mules, kebanyakan minum kopi.

Memang selalu ada yang harus direlakan ketika berpuasa. Hari ini gw merelakan perut gw mules supaya bisa numpang duduk, jauh dari rumah, jauh dari layar-layar lebar yang sebulan terakhir ini gw kunjungi setiap ada kerjaan. Puasa layar. Setidaknya, walaupun mules, sore ini gw pulang dengan hati puas, lega, mengantongi draft dan sketsa pikiran gw. I’ve worked my ass off, with my own hand~

Referensi:

[1] Carr, Nicholas. (2014). The Glass Cage: Automation and Us. New York: W.W. Norton & Company, Inc., pg. 37

[2] ibid, pg. 191

[3] ibid, pg. 26

[4] ibid, pg. 51

[5] Peter Adey, D. B. (2012, February 19). Profiling the passenger: mobilities, identities, embodiments. Cultural Geographies, pg. 186

[6] ibid, pg. 218

[7] ibid, pg. 53

[8] ibid, pg. 81

[9] ibid, pg. 1

[10] ibid, pg. 14-16

[11] ibid, pg. 44

Advertisements