Menafikan Rumah

Lagi-lagi ngomongin: apa itu ‘rumah’? Sekian lama mencoba mendefinisikan arti rumah, gw belum juga bisa mendefinisikan secara sempurna apa itu ‘rumah’. Tapi setidaknya ada suatu definisi sementara yang saat ini gw pahami.

Dalam bahasa Inggris ada 2 kata yang diartikan sebagai rumah, house dan home. House adalah definisi fisik dari rumah, terbuat dari bata, berpintu dan berjendela, dinaungi atap, dsb. Sedangkan home adalah sesuatu yang lebih subtle. Entah kenapa bahasa Indonesia gak punya kata yang bisa membedakan dua makna ini, atau mungkin gw aja yang perbendaharaan katanya terbatas.

Definisi ‘rumah’ yang sedang gw bicarakan mungkin lebih dekat maknanya dengan home, the subtle one. Bagi gw rumah adalah di mana kita bisa berada dekat dengan orang-orang yang paling kita cintai. Di mana pun itu, entah kita sedang berada di rumah fisik yang sesungguhnya maupun tidak. Masih abstrak sepertinya.

Coba kita definisikan sebagai sebuah tempat. Rumah adalah tempat di mana di dalamnya kita tidak pernah kekurangan cinta, merasa paling bahagia ketika berada di dalamnya dan gak bakal ada hal yang dapat membuat kita sedih melainkan kita bisa bangkit secepat kilat saat di dalamnya. Mungkin seperti shower cube, atau kamar mandi deh simplenya. Sebelum masuk ke dalamnya kita merasa kotor, lengket, gak asik, tapi setelah keluar jadi segar, bersemangat lagi, bersih, dan wangi.

Ini yang gw rasakan ketika gw bertemu mereka yang berbulan-bulan terpisah, ketika menjemput di bandara, atau ketika berusaha lari secepat kilat ketika mendengar ketukan di pintu setelah menanti dengan berdebar di rumah. Lebih spesifik lagi ketika senyum mengembang ngeliat serombongan keramaian kembali memenuhi bangunan yang di sebut rumah, atau mungkin ketika suara seruan ‘u’, ‘a’,’ sho’, ‘den’, atau ‘ser’ terdengar. Entah mana yang lebih cepat antara refleks tubuh untuk mengembangkan senyum atau kecepatan suara.

Tapi ternyata gw baru tau satu hal: semua skenario indah itu cuma simulacra, gw adalah simulacrum, mereka simulacrum, dan semua kegiatan yang dilalui itu adalah simulacrum. Ya, karena semua itu terjadi hanya ketika liburan di mana semua momen adalah menyenangkan, jalan-jalan, gak ada rutinitas yang mendikte. Gw gak pernah bener-bener mengalami secara utuh bagaimana tinggal bersama mereka, dan begitupun sebaliknya. Mungkin sudah terlalu lama gw terpisah jauh..

Setelah lebih dari sepertiga umur gw hidup terpisah, ternyata gw baru tau satu hal lagi: bahwa eksistensi ‘rumah’ yang dicari-cari definisinya selama ini ternyata juga bisa dinafikan. Marc Auge, atau mungkin Yi-Fu Tuan, pernah bilang sesuatu yang kayaknya gw pahami seperti ini: the real is when we involved to what happened around us as a whole being and give a significant influence. Ketika gw diberi kesempatan menjadi real dalam sekuensial simulacra yang selama ini gw jalani, terungkaplah bahwa sebetulnya ‘rumah’ yang selama ini gw yakini keberadaannya tidak semulus itu.

Ketika pulang, membuka pintu, dan mengharap sambutan hangat, tapi yang ada hanya pengabaian, apa di situ ada cinta?

Ketika menyapa, mengajak diskusi tapi tidak ada suara bersambut, apa di situ ada cinta?

Ketika berada di dekat semua orang yang dikira tersayang tapi yang ada hanya daging-daging berjalan tanpa keterkaitan rasa, apa di situ ada cinta?

Ketika berada di antara keramaian tapi terasa hening yang dingin dan terasing, apa di situ ada cinta?

Ketika teman diskusi sepanjang hidup tak saling bersapa, apa di situ ada cinta?

Ketika ruangan penuh tawa kosong tanpa ada diskusi penuh makna, apa di situ ada cinta?

Rumahku, surgaku. Tapi catat, ketika rumah itu tidak bisa menjadi surga, maka ia akan terasa bagai neraka. Sepertinya saat ini gw sedang berada di ‘rumah’ yang salah, bukan ini rumah yang gw rindukan..

 

 

PS:

Buat Rara yang akan datang, jangan tiba-tiba malu ya pas baca ini karena kelebayan bahasa sok puitis. Mungkin selera bahasa akan berubah, tapi tetap satu pikiran bahwa cara terbaik mengubek-ubek isi hati adalah lewat tulisan.

Advertisements