PERJALANAN MASIH PANJANG, NENG

Yunni Wulan Ndari, news.liputan6.com

 

Pak kurus yang ada di kantor sana. Pak, pak saya mau mengadu, pak.

Bukannya saya ini kegeeran ngaku-ngaku anak bapak, kepingin pun engga. Ibu saya juga bukan istri kedua bapak. Tapi yang jelas saya merasa dianaktirikan.

Tiap hari saya berpapasan dengan gelonggong-gelonggong kaleng. Kadang mereka melenggang luwes, kadang tersendat-sendat. Satu hal sih yang jelas, mereka punya ruang sendiri buat bergerak. Pas gak bergerak pun mereka dikasih ruang, gede-gede lagi.

Saya jadi sirik pak. Soalnya saya cuman punya kaki, dan gak punya kaleng. Tapi tiap kali saya mau bergerak luwes, saya jadi bingung: di mana lagi kaki bisa menapak? Pasalnya, kebanyakan ruang udah abis dikorup sama gelonggong kaleng dan gerobak abang-abang kekar.

Saya sebenernya gak keberatan buat berbagi ruang dengan mereka. Tapi ternyata gelonggong-gelonggong itu pelit. Mereka ogah bagi-bagi, tiap ketemu ekspresinya “sana deh gw mau lewat, lo mending minggir.”. Ke mana lagi harus minggir? Itu di samping udah got. Ke mana lagi harus minggir? Ntar saya keserempet.

Saya mau aja sih ngalah. Sayangnya saya gak bisa terbang, kalo pun bisa pasti saya lebih milih terbang biar para gelonggongan kaleng bisa nyaman mondar-mandir.

Ah, yasudahlah. Yang tadi cuman sesaat kok, untung sekarang udah kebagian ruang. Lagipula pemandangan di atas masih bersih, masih banyak ruang. Setidaknya bulan sabit masih bisa muncul di antara hutan beton, dan layang-layang masih bisa terbang.

 

*sayup-sayup

“Mba, mba. Kuliah ya mba? Mba? Kuliah mba? Eh mba?”

What? Damn, lo mencacah semua peserta konfrensi di otak ini! Damn! Damn! Damn!

 

Bumi memanggil Rara, meninggalkan remaja-tambun-berbaju-ijo-neon-dengan-poni-lempar-modifikasi-yang-lagi-tercengir-cengir di belakangnya. Damn! -_-“

 

Many of the places we tried to visit were closed though, but it was interiesting to just walk around too (even though Jakarta doesn’t seem to be really built for walking).

– Magnus Falk, email pribadi

Advertisements