PERJALANAN MASIH PANJANG, NENG

Pak kurus yang ada di kantor sana. Pak, pak saya mau mengadu, pak.

Bukannya saya ini kegeeran ngaku-ngaku anak bapak, kepingin pun engga. Ibu saya juga bukan istri kedua bapak. Tapi yang jelas saya merasa dianaktirikan.

 

Tiap hari saya berpapasan dengan gelonggong-gelonggong kaleng. Kadang mereka melenggang luwes, kadang tersendat-sendat. Satu hal sih yang jelas, mereka punya ruang sendiri buat bergerak. Pas gak bergerak pun mereka dikasih ruang, gede-gede lagi.

Saya jadi sirik pak. Soalnya saya cuman punya kaki, dan gak punya kaleng. Tapi tiap kali saya mau bergerak luwes, saya jadi bingung: di mana lagi kaki bisa menapak? Pasalnya, kebanyakan ruang udah abis dikorup sama gelonggong kaleng dan gerobak abang-abang kekar.

Saya sebenernya gak keberatan buat berbagi ruang dengan mereka. Tapi ternyata gelonggong-gelonggong itu pelit. Mereka ogah bagi-bagi, tiap ketemu ekspresinya “sana deh gw mau lewat, lo mending minggir.”. Ke mana lagi harus minggir? Itu di samping udah got. Ke mana lagi harus minggir? Ntar saya keserempet.

Saya mau aja sih ngalah. Sayangnya saya gak bisa terbang, kalo pun bisa pasti saya lebih milih terbang biar para gelonggongan kaleng bisa nyaman mondar-mandir.

Ah, yasudahlah. Yang tadi cuman sesaat kok, untung sekarang udah kebagian ruang. Lagipula pemandangan di atas masih bersih, masih banyak ruang. Setidaknya bulan sabit masih bisa muncul di antara hutan beton, dan layang-layang masih bisa terbang.

*sayup-sayup

“Mba, mba. Kuliah ya mba? Mba? Kuliah mba? Eh mba?”

What? Damn, lo mencacah semua peserta konfrensi di otak ini! Damn! Damn! Damn!

 

Bumi memanggil Rara, meninggalkan remaja-tambun-berbaju-ijo-neon-dengan-poni-lempar-modifikasi-yang-lagi-tercengir-cengir di belakangnya. Damn! -_-“

 

Many of the places we tried to visit were closed though, but it was interiesting to just walk around too (even though Jakarta doesn’t seem to be really built for walking).

– Magnus Falk, email pribadi

Advertisements

2 Comments

  1. Terimakasih ra buat mata pejalan kakinya! Terus terang gue merasakan hal yang sama saat gue jalan kaki bahkan ga cuma di jakarta. Bekasi dan Depok pun ikut begitu. Sedikit menyumbang mata pengendara kaleng. Sering si empunya kaleng pun diambil haknya dengan pemakai kaleng lainnya. Melawan arah suka-suka. Mengambil jalur orang. Buang ludah seenak jidat. Ngere, tiba tiba. Ngetem sambil budeg, ga ngaruh diklaksonin. Puntung rokok masih nyala dilempar gitu aja. Saat di motor dia menyalip, dia teriaki mobil yang menghalangi. Saat di mobil dia menghalangi, dia teriaki motor yang menyalip. Mungkin kita gak hanya punya dua kelompok. Si tanpa kaleng dan si dengan kaleng. Lebih jauh lagi bisa aja ini masalah pola pikir masyarakat yang sudah terlampau individualis. Gak mau mengalah diatas manapun dia. Yang penting doi enak. Sabodo teuing orang lain.

    Reply

    1. kalo lagi jalan kaki bawaannya mau ngelabrak motor, kalo naik motor mau ngelabrak mobil, kalo naik mobil pengen ngelabrak motor. kasian orang-orang kota ini, lama2 bisa psyco..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s