DESIGNED BY DESIGNERS

DESIGN FOR THE DESIGNERS. Sebelum ini gw pernah nge-post tentang keadaan studio & kehidupan di dalamnya. 90% berbicara tentang apa yang gak dipunya, dan apa yang didambakan untuk dipunyai studio anak arsitektur.

Gak sampe setahun setelah mem-publish tulisan itu, baru lah gw tersadar kalo selama ini gw belum benar-benar ‘melihat’! Untunglah di tahun terakhir gw berstatus sebagai anak arsitektur, di semester terakhir gw punya studio, semuanya mulai bisa ‘terlihat’.

Kadang mata yang melihat justru membutakan. Kenapa? Karena lucunya setelah melewati 7 semester bersama kelas studio, yang gw anggap sangat tidak layak untuk bekerja, sudut pandang gw berubah total. Tiba-tiba, di mata gw, studio adalah kantor Google paling kece, atau mungkin bisa juga kantor Facebook yang paling seru.

Mungkin secara kasat mata studio gw gak segaul kantor Facebook atau Google. Untuk level sedikit mirip aja gak bisa masuk hitungan, tapi rasanya studio ini punya segalanya. Alas tidur, oase air segar, penenang perut, area dance class (ini seriusan ada tiap Jumat, atau tiap kita pengen refreshing), tempat ibadah, photobooth, papan informasi, cermin, apa aja ada deh.

Mungkin juga kita gak punya perosotan, beanbag, atau apapun yang sekeren kantor-kantor itu, tapi keberadaan penghuninya sukses menghadirkan kesenangan yang setara dengan kantor gaul. Setiap hari, di berbagai sudut, tercipta playground yang menunggu untuk dieksplorasi oleh penghuninya. Modalnya sederhana, keserbaterbatasan fasilitas dan ruang gerak. Secara alamiah makhluk-makhluk studio ini menciptakan ini itu buat memenuhi kebutuhan mepetnya.

‘Ini itu’ mungkin akan sekedar menjadi ini itu, dan bukannya playground seru. ‘Ini itu’ baru akan menjadi rollercoaster, perosotan, dan beanbag empuk ketika makhluk studionya bersakit-sakit bersama untuk merasakan serunya playground di lantai 6 Engineering Center. Rasa kepemilikan bersama. Inilah salah satu community-based project yang berhasil, menurut gw. Setiap makhluk studio bergerak untuk merawat ‘ini itu’ agar tetap menjadi playground, bukan sekedar ini itu biasa.

Satu hal yang gw pelajari adalah, terkadang hal yang paling dekat dengan kita tidak terasa keberadaannya. Terlalu sering dirasakan lalu menjadi tanpa rasa. Padahal sebenarnya mungkin saja hal-hal yang seru & menyenangkan adalah hal yang sesimple punya galon baru buat begadang, atau karaoke bersama di pagi buta. Nama kecenya Everyday Architecture B)

Apapun namanya, apapun kurang & lebihnya, yang jelas studio lantai 6 EC ini menjadi ada karena makhluk2 studio itu sendiri.

RIORITA :’3

RIORITA

LALA

Advertisements