A City with Speed

A city made for speed is made for success -Le Corbusier, City of Tomorrow and Its Planning, p. 179.

The Four Routes

“the congestion is so complete that in New York businessmen
leave their automobiles in the outskirts and take the subway to the offi ce. An amazing
paradox!” (Le Corbusier, The Four Routes)

Begitu pun di Jakarta

Begitu pun di Jakarta

 

Kota yang ideal buat Le Corbusier sih katanya “City with Speed” dan sekarang kayaknya gw mulai paham kenapa.

Terutama setelah gw magang di biro yang kantornya deket pusat perkantoran Jakarta, Thamrin. Baru aja 2 hari magang gw udah eneg banget sama segala hambatan jalan yang ada di sepanjang rute pulang gw. Kantornya sih deket, cuma naik busway aja seciprit dan harusnya bisa murah, tapi lamanya perjalanan bisa 1,5-2 jam. Beeh, mau marah gak tuh?

Alhasil, dari 2 hari pengalaman magang gw jadi sangat mengidamkan kota yang serba cepat, terutama di aspek lalulintasnya. Oiya cepet itu bukan berarti ngebut, tapi memadai untuk ditempuh dalam waktu singkat karena minim hambatan.

Bayangin kalo jalanan serba cepet, kan bisa tuh berangkat magangnya lebih pagi supaya bisa jalan kaki atau naik sepeda. Ini bukan karena pelit ongkos, tapi karena gw yakin pagi hari itu harusnya dinikmatin dulu sebagai pembuka kegiatan selama sehari.

Tapi setidaknya gw jadi belajar 3 hal:

1. Cari kerja jangan yang tingkat macetnya tinggi, pergi susah pulang juga susah. Mending cari di daerah yang berlawanan arus kerja.

2. Kereta emang kendaraan paling super buat gw, apalagi kalo dapet tempat kerja yang berlawanan arus kerja (Y).

3. Jakarta emang keras. Segala hal harus ada pengorbanan. Pilih hemat tapi capek & lama, atau keluar duit tapi tinggal duduk & (mungkin aja) lebih cepet nyampenya.

 

Yah begitulah pengalaman 2 hari yang lelah-tapi-sangat-menggembleng-kemampuan-berinterior dari rangkaian internship perdana 🙂

 

Buat yang tertarik tentang “City with Speed” bisa baca ulasan singkat teori LeCorbu di sini.

 

 

Advertisements