Bad Day Pasti Berlalu (?)

“Kami memang miskin dan tampak semrawut, tapi kami bukan korban. Dan saat mengalami kesusahan, orang di sini melakukan apa yang selama ini dilakukan – mereka mencari jalan untuk beradaptasi dan bertahan hidup.” -Zakir Kibria, analis kebijakan publik via: NatGeoMagazine

Setelah 2 hari gw balik ke Jakarta, suasana suram kota ini kerasa banget. Banjir di mana-mana, akses sana sini keblokir. Tempat-tempat jadi lumpuh. Ratusan orang harus ngungsi. Sediih banget.

Walopun gw mungkin termasuk segelintir warga daerah Manggarai yang beruntung karna gak kebagian becek, tapi setiap hujan turun selalu bikin gw resah. Akan ada lebih banyak lagi yang kebecekan di luar sana, gak bisa tidur, kedinginan, atau bahkan hilang nyawa karna hanyut ūüė¶

Dan yang lebih mengerikan dan meresahkan adalah bahwa kondisi cuaca buruk ini nyatanya gak cuman di Jakarta aja, di Sumatra, Sulawesi, dan bahkan Papua gak ketinggalan kena banjir. Apalagi pas tau kalo di Korea dan Cina juga terjadi cuaca buruk. Ada apa dengan Bumi kali ini ya?

Tapi dari semua cerita sedih ini, gw jadi inget satu cerita tentang orang-orang tangguh di negara miskin Bangladesh. Gw pernah baca ini di suatu tempat yang ternyata National Geographic Magazine Mei 2011. Negara ini diceritakan sebagai suatu tempat yang terkena perubahan cuaca ekstrem, ditambah pula dengan jumlah populasi manusia yang membludak. Dengan keadaan permukaan tanah yang rata-rata rendah, dan juga dialiri banyak sungai, dataran Bangladesh ini seriiiiiing banget kebanjiran. Baik itu karena musim hujan atau karena naiknya permukaan air laut. Kebayang gak sih air di mana-mana ditambah lagi dengan sesaknya manusia di dataran itu?

Tapi, dengan semua itu masyarakat Bangladesh sanggup berdamai dengan kondisi. Kalo gw baca nih mereka itu menjadi sangat adaptif dan bisa mengembangkan hal-hal kecil, sederhana untuk menaklukan kondisi. Tujuannya cuma satu, bertahan hidup. Dan dengan kelihaian (atau mungkin keterdesakan)  ini diceritakan bahwa mereka berhasil mengembangkan perawatan kesehatan dasar, meningkatkan pendidikan dan partisipasi kerja perempuan, pemangkasan populasi, inovasi bibit padi yang tahan air garam, dan bahkan untuk berkelit dari gonjang ganjing cuaca ini mereka membuat sistem rumah bongkar pasang yang bisa sewaktu-waktu dipindahkan ketika banjir, dan sejam kemudian sudah terbangun lagi! Walopun yaah, tetep sih itu gak sebanding dengan tingkat kemiskinannya (katanya sih gitu).

Bingung gak sih? Orang-orang ini makan apa ya bisa setangguh itu? Padahal deraan musibahnya (kalo gw liatnya mungkin musibah, kalo mereka mungkin kondisi alamiah?) bisa sepanjang tahun loh. Apalagi dengan tambahan perubahan cuaca yang menggila karena peran emisi dari negara-negara industri berkembang yang lagi doyan-doyannya membangun. Walopun emang sih mereka di supplay juga sama pihak-pihak luar yang dikukung komitmen buat memberi bantuan (atau ganti rugi?) terkait dengan perubahan iklim yang mereka prakarsai.

Dari sini keliatan banget nih sifat dasar manusianya, dalam keadaan-keadaan mepet gini. Naluri untuk bertahan hidupnya ¬†mungkin jadi lebih besar ya? Istilahnya di majalah itu “kesulitan masa lalu menerbitkan harapan dahsyat”.¬†

Lalu apa nih yang kita punya? Yang masyarakat Jakarta punya buat menghadapi musibah yang udah berkerak kayak gini? Bangladesh punya semangat dan harapan yang tinggi. Lalu kita? Simpati dan empati yang tinggi kah? Setidaknya gw seneng ngeliat respon warga Jakarta lain yang gak terkena banjir, dan bahkan warga kota lain saling bahu membahu berusaha meringankan korban-korban yang bertebaran di banyak titik banjir Jakarta. Tapi, udah saatnya juga kita punya langkah adaptasi yang membuahkan inovasi juga dong ya?

Advertisements