Rumah?

Apa sih sebenernya rumah? Bangunan kotak beratap segitiga kayak yang digambarin mayoritas anak-anak Indonesia? Tempat naro baju dan tidur? Tempat berlindung dari gangguan cuaca? Relatif ya, tergantung bagaimana kita memandang rumah.

Kalo dari yang pernah gw tau, rumah itu berawal dari kebutuhan manusia untuk berlindung dari gangguan cuaca dan binatang buas, intinya sih berfungsi sebagai pelindung. Manusia dulu tinggal bersama dalam gua-gua, menghindari badai, dan ancaman dari makhluk hidup lain di sekitarnya. Tapi nih ya, sejalan dengan berjalannya waktu manusia mulai merasa kalo ada hal-hal yang pengen mereka simpen sendiri. Hal-hal yang gak mau dibagi sama orang lain. Maka kemudian terpecahlah kumpulan manusia, yang tadinya hidup bersama itu, menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka mulai menandai benda-benda, dan gak ketinggalan wilayah yang diyakini milik mereka. Nah, adanya pemecahan kelompok besar menjadi kelompok kecil ini pastinya berpengaruh ke banyak hal dong ya? Sosial. Lingkungan yang tadinya saling menyatu, mengerucut menjadi lingkungan yang lebih eksklusif. Pastinya hubungan manusia dalam satu kelompok dibandingkan dengan antar kelompok berbeda kan? Dalam satu kelompok, ada hal yang menjadi benang merah orang-orang di dalamnya. Yang menjadi pemersatu mereka. Jadilah wilayah yang mereka tandai itu sebagai area interaksi eksklusif, dan juga intensif.

Interaksi ini, menurut pemikiran gw, membangun sesuatu yang lebih dari sekedar perasaan memiliki tempat itu bersama-sama. Timbul rasa saling terhubung antar manusianya, dan ini menurut gw yang lebih besar perannya untuk menjaga wilayah itu daripada sekedar pemenuhan kebutuhan khusus. Terutama sih , lagi-lagi menurut gw, karena selama proses interaksi itu manusia-manusia ini mengguratkan persepsi dan ingatan-ingatan khusus pada berbagai benda di sekitarnya. Nah adanya ‘guratan-guratan’ ini membangun hubungan si manusia dengan wilayah fisik yang dia diami. Jadi nilai wilayah itu, anggap aja rumah, lebih dari sekedar tempat untuk berlindung, tapi juga brangkas memori dan persepsi.

Gw pernah baca tulisan Martin Heidegger, Building Dwelling Thinking. Dari bacaan itu salah satu kesimpulan yang bisa gw ambil adalah bahwa bangunan belom tentu merupakan dwelling, tapi dwelling sudah pasti merupakan sebuah bangunan. Dari kesimpulan ini muncul pertanyaan di otak gw: belom tentu sebuah rumah itu betul-betul merupakan dwelling bagi penggunanya ya? Dan itu ternyata bisa dibuktikan.

Selama proses bertambahnya umur, gw ngeliat banyaak banget pergeseran makna dari rumah. Terutama yang berhubungan dengan fungsi rumah sebagai brankas memori dan persepsi. Manusia jaman sekarang, menurut kacamata gw, cenderung terbiasa hidup sendiri. Seiring dengan majunya teknologi, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan perorangan dan gak butuh bantuan orang lain. Interaksi antar kelompok kecil yang tadi gw ceritain, akhirnya pecah lagi ke unit-unit yang lebih kecil, yaitu manusia perorangan. Wilayah yang diperlukan jadi lebih kecil, berupa unit-unit yang lebih terpisah, lebih personal. Semua bisa dilakukan sendiri di masing-masing wilayah (rumah), tidak terlalu perlu bantuan orang lain. Interaksi antar manusia terjadi lebih banyak, mungkin, di tempat-tempat kerja. Kalo gitu, persepsi yang memori yang ter’gurat’ itu ada di tempat-tempat kerja itu dong ya? Terus apa dong makna rumah kalo ternyata di sana hanya sedikit persepsi dan memori yang tersimpan?

Pada akhirnya, rumah tidak lagi menjadi tempat bertinggal. Hanya sebuah massa tempat bersinggah. Oiya sebelumnya, bertinggal itu kalo menurut gw adalah menetap, basecamp,  asal muasal, hal-hal yang selalu manggil-manggil kita untuk kembali, hal-hal yang menyimpan bagian-bagian diri kita yang paliing intim, dan mejadi diri kita yang sesungguhnya. Nah yang tadi-tadi gw sebutin tentang bertinggal itu, menurut gw, muncul dari proses interaksi yang terjadi dengan manusia lain yang akhirnya membuahkan suatu perasaan terhubung, dan memori yang tersimpan di berbagai benda. Kalo interaksi lebih banyak terjadi di luar rumah, berarti memori-memori itu tersebar di mana-mana dong ya? Terus apa bedanya rumah dengan tempat-tempat lain?

Bisa jadi dengan ketiadaan sosok ‘rumah’ ini, banyak orang yang bingung. Kelayapan mencari asal muasalnya. Mencari tempat di mana dia bisa menjadi dirinya yang sejujur-jujurnya, karna di hidup yang keras ini, kadang kita harus menjadi seseorang yang lain. Who knows?

Advertisements